Sunday, May 29, 2011

Tim Bulutangkis Indonesia terhenti di babak semifinal Piala Sudirman 2011

Akhirnya, harapan Indonesia untuk merasakan partai final pun terhenti di babak semifinal setelah langkahnya terhenti oleh Denmark yang berhasil mengalahkan Indonesia dengan skor 3-1. Sebelumnya, dengan susah payah Indonesia mengalahkan Jepang di perempat final dengan skor tipis 3-2.
Piala Sudirman pun yang diangan-angankan bangsa ini dengan berat hati sementara lagi-lagi masih menginap di negara lain atau negara pemenang kejuaraan tersebut. Tapi yang pasti, kegagalan ini harus dapat menjadi semangat untuk menjadi yang terbaik dalam memperbaiki kualitas, tentunya didukung pula dengan peran serta yang terkait agar program dan tujuan serta prestasi dapat tercapai.
Amien.....

Wednesday, May 25, 2011

Piala Sudirman 2011 (Kejuaraan Bulutangkis Beregu) dan China sebagai tuan rumah

Rabu, 25 Mei 2011 Timnas Bulutangkis Indonesia berhasil mengalahkan musuh bebuyutan dalam kejuaraan ini yakni Malaysia. Persaingan ketat untuk perebutan posisi sebagai Juara grup B akhirnya dapat diraih oleh Indonesia setelah mengalahkan Malaysia dengan skor 3-2. Hal ini akan menjadi modal besar bagi Indonesia yang dengan kemenangan tersebut telah mengantongi tiket menuju babak perempatfinal karena dapat menghindari ancaman kekuatan dan ujian besar yang telah menanti apabila Indonesia hanya berpredikat sebagai runner-up grup B, karena hal ini akan menghantarkan Indonesia untuk melawan tim yang sampai saat ini teramat masih sangat sulit untuk dikalahkan, yaitu China. Namun, dengan semangat penuh perjuangan para pebulutangkis Indonesia yang dirasa peluangnya sangat berat untuk merengkuh gelar juara di ajang ini dikarenakan tim yang diturunkan notabene adalah para pebulutangkis yang di atas kertas masih menduduki ranking yang tidak sepadan dengan lawan-lawan yang akan dihadapinya seperti salah satunya yang baru saja dikalahkan yaitu Malaysia itu sendiri.
Namun, terkadang fakta di lapangan berbicara lain. Selama semangat patriotik tertanam dalam segenap jiwa para pejuang olahraga dan senantiasa rendah hati dan selalu mengasah kemampuan untuk meningkatkan kualitasnya, niscaya prestasi akan menghampiri dengan sendirinya. Hal ini perlu didukung pula oleh pemerintah pada umumnya serta pengurus bulutangkis negeri ini yang konsisten untuk memberikan dan mengutamakan kepentingan bangsa dan martabat Indonesia dalam rangka menjaga wibawa serta melakukan regenerasi ke depan agar prestasi tradisi juara yang dahulu dirasakan bangsa ini bukan tidak mungkin akan diraih dengan usaha yang sungguh-sungguh. Semua ini tentunya tidak lepas dari peran aktif dari tiap-tiap elemen yang terkait demi memajukan bangsa dan harga diri bangsa Indonesia.
Maka, mari kita pekikkan,, Ayo Kita Bawa Pulang Kembali Piala Sudirman ke Kampung Halamannya Sendiri....!!!!
Salam Penuh Semangat.

Friday, May 20, 2011

Sebuah Peristiwa Menyedihkan di 20 Mei 2011

Hari ini, hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada hari Jum`at ditandai dengan adanya berbagai peristiwa yang terjadi di negeri ini. Salah satunya tanpa mengurangi semangat nasionalisme yang seakan-akan mulai memudar di masyarakat kita ini, sebuah episode yang berkelanjutan mengenai kekisruhan di tubuh PSSI hendak ditentukan melalui Kongres PSSI yang sangat bersejarah ini dan mungkin tidak akan pernah terlupakan oleh masyarakat para pecinta sepakbola tanah air yang menginginkan kekisruhan tersebut tak pernah bersambung layaknya sebuah drama sinetron yang banyak ditayangkan di layar kaca.
Namun, apa yang terjadi....
Ternyata Kongres tersebut hanyalah sebuah panggung bagi para sekelompok orang-orang yang terkesan hanya mementingkan semangat kelompoknya sendiri yang hendak memperjuangkan kepentingan tersendiri, bukan kepentingan umum atau dapat dikatakan kepentingan dan keinginan seluruh bangsa Indonesia yang menginginkan sayap garuda selalu mengepakkan sayapnya ke seluruh penjuru dunia.
Kongres tidak berjalan sebagaiman mestinya yang telah diagendakan jauh-jauh hari yang agenda utamanya yaitu akan menyelenggarakan pemilihan Ketua, Wakil Ketua dan Exco PSSI karena kericuhan terjadi di dalam gedung Hotel Sultan, Jakarta yang menjadi arena Kongres berlangsung. Hujan interupsi pun tak terelakkan sehingga Kongres diselenggarakan untuk menentukan pemilihan Ketua, Wakil Ketua dan Exco tersebut mengalami "deadlock", Kongres pun ditutup dikarenakan suasana Kongres yang sudah dianggap tidak kondusif lagi.
Oleh karena itu, dengan kegagalan pelaksanaan Kongres untuk melakukan pemilihan tersebut, sepakbola Indonesia bersiap akan menerima sebuah sanksi dari otoritas tertinggi sepakbola dunia yaitu FIFA. Sanksi tersebut dapat berupa pembekuan terhadap konfederasi sepakbola negeri ini, dalam hal ini PSSI itu sendiri. Apabila hal itu benar-benar terjadi, maka sepakbola Indonesia akan terkucilkan dari persaingan internasional serta event-event internasional, mulai AFF Cup, AFC Cup, Kualifikasi Piala Dunia dan Olimpiade, serta masih banyak yang lainnya yang tidak dapat diikuti oleh Indonesia dalam hal sepakbola apabila sanksi tersebut telah nyata-nyata dirasakan bangsa ini. Dengan itu, kualitas persepakbolaan nasional akan hilang dari persaingan internasional serta otomatis akan mempengaruhi kualitasnya sendiri karena tidak mendapatkan pengalaman dari percaturan persepakbolaan internasional.
Akhirnya, seluruh elemen masyarakat pada akhirnya hanya menginginkan sebuah kejayaan dan kemajuan bagi bangsa ini yang salah satunya di dunia sepakbola ini.
Sudah lama kita terlelap dalam tidur yang panjang ini...
Sudah lama kita mendambakan semangat garuda yang haus akan prestasi...
Sudah lama kita menginginkan kepengurusan sepakbola negeri ini mementingkan kepentingan bangsa, bukan kepentingan kelompoknya...
Sudah lama...
Sudah lama...
Tapi, sampai kapan ini terus kita alami, kuncinya hanyalah hati nurani yang berbicara untuk mengutamakan kepentingan bangsanya sendiri, yaitu INDONESIA.

Salam,
Merah Putihku Selalu di Hati

Thursday, May 5, 2011

Hot News of The Month (Mei 2011)

Osama Bin Laden TEWAS (menurut konferensi pers Barack Obama). Osama tewas dalam penggerebekan pasukan elite AS ke rumah mewahnya yang berada di Pakistan. Menurut pemberitaan-pemberitaan di media massa, Osama tewas karena terkena tembakan di kepalanya. Namun, pasca pemberitaan tewasnya Osama sebagian publik dunia pada umumnya masih meragukan kabar tersebut dikarenakan pihak Gedung Putih AS sampai beberapa hari pasca kabar meninggalnya Osama belum juga merilis bukti-bukti yang menyatakan bahwa Osama tewas dalam penggerebekan tersebut. Oleh karena itu, sebagian masyarakat dunia merasa masih meragukan kabar kematian Osama Bin Laden yang dianggap sebagai tokoh Terroris yang paling dicari (Most Wanted).


 Sementara itu, AS sendiri memiliki pandangan lain mengenai keraguan publik tersebut. Mereka beranggapan bahwa foto Osama yang telah tewas berlumuran darah di bagian kepalanya karena terkena tembakan pasukan elite AS dianggap tidak pantas untuk dirilis ke ranah publik karena kurang pantas menurut mereka. Selain itu, hal ini dimungkinkan akan memicu reaksi yang lebih ekstrem bagi kalangan tertentu terhadap AS mengenai kontroversi akan dirilis tidaknya bukti-bukti kematian Osama Bin Laden.

Jadi, pada akhirnya bahwa terlepas dari kontroversi benar tidaknya kabar kematian Osama Bin Laden, kita sebagai umat yang beragama tentu sangat tidak sependapat dengan perilaku Terorris yang senantiasa mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, yang patut DIPERHATIKAN bahwa pada dasarnya semua agama pasti mengarahkan tiap-tiap umat yang beragama tersebut untuk senantiasa tenggang rasa dan mengarahkan kebaikan, bukan kepada keburukan. Jadi, sangat tidak adil ketika suatu peristiwa yang terjadi selalu dikaitkan dengan agama tertentu karena hal ini sama halnya dengan penghakiman terhadap suatu agama tersebut. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam dan kekritisanlah yang diperlukan untuk menjadi perisai bagi masing-masing individu dalam menyikapi suatu peristiwa agar tidak terbawa isu yang masih diragukan kebenarannya baik materi maupun sumbernya. Dua hal itu pula yang dapat menciptakan insan individu yang berkualitas yang otomatis pula menjadikan bangsa yang berkualitas pula baik pemahaman kebangsaan pada umumnya maupun akhlaknya pada khususnya.