Hari ini, hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada hari Jum`at ditandai dengan adanya berbagai peristiwa yang terjadi di negeri ini. Salah satunya tanpa mengurangi semangat nasionalisme yang seakan-akan mulai memudar di masyarakat kita ini, sebuah episode yang berkelanjutan mengenai kekisruhan di tubuh PSSI hendak ditentukan melalui Kongres PSSI yang sangat bersejarah ini dan mungkin tidak akan pernah terlupakan oleh masyarakat para pecinta sepakbola tanah air yang menginginkan kekisruhan tersebut tak pernah bersambung layaknya sebuah drama sinetron yang banyak ditayangkan di layar kaca.
Namun, apa yang terjadi....
Ternyata Kongres tersebut hanyalah sebuah panggung bagi para sekelompok orang-orang yang terkesan hanya mementingkan semangat kelompoknya sendiri yang hendak memperjuangkan kepentingan tersendiri, bukan kepentingan umum atau dapat dikatakan kepentingan dan keinginan seluruh bangsa Indonesia yang menginginkan sayap garuda selalu mengepakkan sayapnya ke seluruh penjuru dunia.
Kongres tidak berjalan sebagaiman mestinya yang telah diagendakan jauh-jauh hari yang agenda utamanya yaitu akan menyelenggarakan pemilihan Ketua, Wakil Ketua dan Exco PSSI karena kericuhan terjadi di dalam gedung Hotel Sultan, Jakarta yang menjadi arena Kongres berlangsung. Hujan interupsi pun tak terelakkan sehingga Kongres diselenggarakan untuk menentukan pemilihan Ketua, Wakil Ketua dan Exco tersebut mengalami "deadlock", Kongres pun ditutup dikarenakan suasana Kongres yang sudah dianggap tidak kondusif lagi.
Oleh karena itu, dengan kegagalan pelaksanaan Kongres untuk melakukan pemilihan tersebut, sepakbola Indonesia bersiap akan menerima sebuah sanksi dari otoritas tertinggi sepakbola dunia yaitu FIFA. Sanksi tersebut dapat berupa pembekuan terhadap konfederasi sepakbola negeri ini, dalam hal ini PSSI itu sendiri. Apabila hal itu benar-benar terjadi, maka sepakbola Indonesia akan terkucilkan dari persaingan internasional serta event-event internasional, mulai AFF Cup, AFC Cup, Kualifikasi Piala Dunia dan Olimpiade, serta masih banyak yang lainnya yang tidak dapat diikuti oleh Indonesia dalam hal sepakbola apabila sanksi tersebut telah nyata-nyata dirasakan bangsa ini. Dengan itu, kualitas persepakbolaan nasional akan hilang dari persaingan internasional serta otomatis akan mempengaruhi kualitasnya sendiri karena tidak mendapatkan pengalaman dari percaturan persepakbolaan internasional.
Akhirnya, seluruh elemen masyarakat pada akhirnya hanya menginginkan sebuah kejayaan dan kemajuan bagi bangsa ini yang salah satunya di dunia sepakbola ini.
Sudah lama kita terlelap dalam tidur yang panjang ini...
Sudah lama kita mendambakan semangat garuda yang haus akan prestasi...
Sudah lama kita menginginkan kepengurusan sepakbola negeri ini mementingkan kepentingan bangsa, bukan kepentingan kelompoknya...
Sudah lama...
Sudah lama...
Tapi, sampai kapan ini terus kita alami, kuncinya hanyalah hati nurani yang berbicara untuk mengutamakan kepentingan bangsanya sendiri, yaitu INDONESIA.
Salam,
Merah Putihku Selalu di Hati
No comments:
Post a Comment